Siapa yang tidak pernah kenal dengan Kota yang namanya Yogyakarta, Kota Pelajar dengan segala keramah-tamahannya pasti banyak membuat orang yang berkunjung untuk selalu kembali lagi. Tidak cuma tempat wisata menarik, bagi pecinta kuliner juga memiliki pilihan yang cukup banyak.

 

 

Kali ini saya ingin berbagi tentang makanan yang bernama Mangut Lele, tak dapat dipungkiri, jenis penganan mangut lele ini sangat banyak di Kota Yogyakarta. Salah satu mangut lele yang mampu membuat saya berulang kali datang untuk menyantapnya lagi dan lagi adalah Mangut Lele Mbah Marto.

Tempatnya berada di dalam gang kecil di perkampungan penduduk, kalau mau ke sana mudah sekali, karena kini sudah ada di map yang ada di aplikasi handphone, tempatnya baru buka sekitar pukul 11.00 pagi hari, dan saya pastikan antrinya panjang kalau tidak datang lebih awal. Alamat tepatnya berada di belakang kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Jalan Parangtritis KM 6.5 Sewon.

Mungkin bagi sebagian orang makan lele hanya biasa ditemukan dalam bentuk pecel lele pinggir jalan yang sambalnya sudah terkenal sedap dan minyaknya yang aduhai hitamnya, hahahah tapi tetap saja menjadi kegemaran saya memakan pecel lele. Lain lagi setelah saya bermukim sementara di Yogya, saya direkomendasikan oleh kawan untuk mencoba olahan lele dengan rasa yang berbeda.

 

Mangut lele ini merupakan lele yang diberi bumbu dan diasap hingga matang, jangan khawatir karena lele-nya sama sekali tidak lembek seperti lele yang digoreng di beberapa kedai makan. Mangut lele ini juga pedas, bagi yang tidak suka masakan pedas Mangut Lele ini mungkin tidak akan kuat untuk disantap, sedangkan penyuka masakan pedas, saya yakin ini akan menjadi salah satu makanan favorit untuk kembali dicicip setiap ke Yogyakarta.

Menu yang ditawarkan cukup beragam meskipun sederhana, ada krecek, garang asem, gudeg, sayur tahu yang semuanya enaaakkkk menurut saya. Harganya murah ko, masih terjangkau sekali, mulai dari 10.000 rupiah saya rasa itu tidak mahal.

Jangan kaget ketika kita akan makan di sana, karena kita tidak disuguhkan dengan tempat yang indah ala cafe dan restoran mahal, sistemnya pun prasmanan/ambil sendiri di dapur, kepulan asap dan suasana dapur khas masyarakat pedesaan begitu kental, jangan pernah membayangkan ada ubin marmer licin, karena di sana dapurnya masih tanah. Tapi jangan dianggap remeh, menurut saya sajian masakan dan makanan yang diberikan bersih dan terjaga kualitas rasanya. Mungkin beliau ingin tetap seperti itu, tetap sederhana dan tidak ingin merubah apa yang sudah menjadi kebiasaannya.

Selamat berwisata kuliner bagi yang akan berlibur ke Yogyakarta.

 10 total views