pengalaman melahirkan dengan dokter bob di jakarta

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama dengan Dokter Bob di Jakarta

Pengalaman melahirkan anak pertamaku, Mukafha Sangkala Aldin, memiliki kenangan tersendiri. Mulai dari rasa sedih, senang, kesal, marah, deg-deg serr, sampai perasaan seperti berada di medan jihad, hii agak berlebihan tapi akan aku ceritakan dibawah ini selengkapnya kenapa begitu, so cekidot! ;p

Sekilas Sebelum Melahirkan

Waktu itu usia kehamilanku sudah memasuki 8 bulan, aku lupa tepatnya sudah berapa minggu, karena otakku tidak canggih untuk menghitung usia kehamilan dengan minggu. Di kantor tuntutan pekerjaan sedang sibuk-sibuknya–mengerjakan laporan tahunan. Sudah 2 hari aku lembur untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Hari itu aku pulang sangat larut, sekitar jam 7 lewat. Aku merasa baik-baik saja, hanya sedikit lelah karena harus berjibaku di depan komputer sampai selarut itu. Suami sudah khawatir dan bingung antara mau marah tapi kasihan karena aku sedang mengandung. Besoknya aku izin tidak masuk kantor karena kelelahan.

Sampai siang hari masih baik-baik saja, namun siang menjelang sore aku merasakan tidak enak diperutku. Selang beberapa lama aku ke kamar mandi keluar cairan bening. Panik dan kaget aku dibuatnya! Ada apa ini, cairan apa ini, aku bertanya dalam hati. Kucoba menenangkan pikiran karena ingat bahwa perempuan hamil tidak boleh stress karena akan memicu kontraksi, apalagi sedang hamil besar. Sampai malam pun cairan bening itu masih keluar, meski tidak banyak tetap ada kekhawatiran apakah ini yang disebut rembes ketuban. Sebelum tidur, suamiku mencoba menenangkan aku agar tidak khawatir karena besok akan diantar untuk cek ke bidan terlebih dahulu.

Dini hari, sekitar pukul 3 pagi aku merasakan tidak enak kembali, kulihat bukan hanya rembesan tapi sudah ada flek darah meski tidak banyak. Aku ceritakan pada suami, singkat cerita, kami langsung bersiap-siap ke bidan cek awal keadaanku. Tepat jam 5 subuh kami berangkat ke bidan Murn*ati (Up*k) yang tidak jauh dari rumah untuk memastikan apa yang kualami. Cerita punya cerita bidan tidak berani mengambil tindakan apa-apa karena kuceritakan sehari kemarin sudah rembes. Jadilah aku dirujuk untuk pergi ke RS B*di K*muli**n (RS BK) dengan berbekal secarik kertas yang menunjukkan bahwa kami mendapat rujukan dari Bidan tersebut.

Tiba di Rumah Sakit Untuk Melahirkan

Setibanya di RS, aku langsung diperiksa ini itu, dipakaikan pakai gelang RS dan suami diminta mendaftarkan kamar. Aku katakan pada dokter kalau aku masih ingin diusahakan untuk melahirkan secara normal. Aku jalani semua yang diperintahkan dokter di sana. Kandunganku dicek detak jantungnya. Alhamdulillah masih ada. Kaget bukan kepalang setelah semua pemeriksaan selesai, aku diminta untuk masuk kamar operasi oleh dokter. Aku tercengang, bukan masalah operasi caesarnya, tapi vonis apa penyebabnya sehingga aku harus melahirkan secara caesar. Aku mulai emosi, dan menanyakan penyebab kenapa aku harus menjalani operasi dalam proses melahirkan anakku yang pertama. Dokter mulai bercerita kalau leukosit-ku sudah turun drop, dan itu berbahaya untuk calon bayi, bisa keracunan bla bla bla banyak lagi yang dikatakan dokter muda itu sampai perasaanku kalut.

Ditengah kekalutan itu, aku minta waktu ke dokter di sana untuk berpikir dan menimbang-nimbang apakah aku akan memutuskan untuk caesar atau tidak, kemudian aku ingat dr. Bob (lain waktu aku akan ceritakan khusus tentang dr. Bob yang sangat ‘ajaib’ ini kenapa ajaib karena ia lain dari dokter-dokter kebanyakan). Tanpa pikir panjang, aku tanyakan no handphone dr. Bob pada teman sejawat saat bersama-sama pernah periksa kehamilan bareng di klinik dr. Bob pada masa kehamilan. Setelah kudapatkan nomor kontak dr. Bob, tanpa pikir panjang langsung ku sms, dibalas, karena tidak sabar aku telepon (karena sms harus menunggu untuk dibalas, prosesnya lama ketimbang langsung telepon). Aku ceritakan secara singkat mengenai kekalutanku, beliau meyakinkan aku tidak apa-apa, dan peluang untuk melahirkan normal sangat besar.

Semua yang dikatakan dokter RS itu dibantah oleh dr. Bob. Aku lega setelah mendapat keyakinan bahwa aku masih bisa memperjuangan bayiku lahir secara normal. Di kepalaku terus saja bergemuruh kalau aku ingin melahirkan normal. Aku berdoa disela-sela kelemahanku sebagai manusia, aku ingin normal Ya Robb, izinkan hamba melahirkan secara normal, kalau memang ditengah perjuangan hamba memang tidak bisa normal karena membahayakan aku dan anakku, aku siap untuk kemungkinan lain, tapi izinkan hamba memperjuangkan kelahiranku secara normal lebih dulu…tak terasa airmataku sudah menetes di pipi.

Kegigihanku Melahirkan Anak Pertama Secara Normal

Usai bicara dengan dr Bob aku meyakinkan diri untuk bisa normal, sementara itu suami sudah daftar kamar untuk operasi, aku katakan aku tidak mau melahirkan di meja operasi, aku tidak mau melahirkan disana, intinya aku ingin pergi secepat mungkin dari RS itu! Aku mengerti, suami sangat khawatir, suami memilih yang terbaik untuk aku dan anaknya, suami mengatakan kalau memang jalannya untuk menyelamatkan kami berdua adalah dengan jalan operasi, maka ia akan menempuh jalan itu. Aku menolak, kukatakan aku sudah menghubungi dr. Bob, dan beliau juga meyakinkan kalau aku masih bisa melahirkan secara normal.

Suami akhirnya mengalah, kami tegas mengatakan tidak ingin dioperasi dan ingin cepat keluar dari RS yang menyebalkan itu. Meski aku tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya padaku dan anakku, meski toh nanti misalkan aku tetap dioperasi, aku tetap ingin memperjuangkan terlebih dulu melahirkan secara normal. Dokter di RS itu meradang, mukanya merah padam, seperti hendak menerkam mangsa yang ada di hadapannya. Kesal?tentu saja dokter muda itu kesal, karena aku bisa membantah dan lebih keras dari intonasi suaranya karena aku teguh pendirian menolak untuk dioperasi! Sempat kudengar kata-katanya agak kasar padaku, dia mengatakan : “Ngomong dong dari tadi, kalau gitu kan dari tadi aja ngga usah!” dengan nada sangat kesal. Aku tidak peduli, yang kupikirkan hanya pergi dari RS itu.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kami keluar dan pergi dari sana, syukurlah meski kami harus membayar Rp. 600.000,- untuk biaya pemeriksaan diawal kedatanganku, tapi biarlah yang penting aku sudah terbebas dari sana.

Pengalaman Melahirkan dengan Dokter Bob di Harmoni

Sesampainya di klinik dr. Bob rasa takut tetap ada dihatiku, namun aku menenangkan diri, aku bisa! Pasti bisa! Setelah dapat kamar, hari menunjukkan sudah pukul 5 sore, aku mulai berbaring, suster membawa infus dan suami mengatakan one sudah dalam perjalanan ke klinik (aku dan saudara kandungku biasa memanggil ibu dengan sebutan one, bukan one dalam bahasa inggris yah lafalnya, hehe). Suster bilang baru bukaan 2, rasa mulas belum begitu terasa. Suami terus mendampingiku, menggenggam tanganku erat sekali, hingga aku merasa tenang untuk menghadapi saat-saat yang tak bisa dilupakan oleh semua perempuan di dunia.

pengalaman melahirkan anak pertama dengan dokter bob di jakarta

Dokter Bob | Sumber: ocadoc.id

Semua rasa berkecamuk di pikiranku, tak sabar rasanya menanti kehadiran buah hati, buah cinta, anugerah tak terhingga dari Alloh pada kami, namun sebagai manusia biasa rasa takut tak mungkin begitu saja berlalu dari dalam diri. Mulut ini tak henti untuk terus memohon pada Sang Maha Penguasa Jagad Raya, untuk memberikan kelancaran persalinanku, menyehatkan anakku tanpa kurang suatu apa. Detik-detik terasa begitu lambat di kepala, nafas begitu dekat terdengar di telinga. Rasa mulas makin lama makin terasa hebat. Ketika one datang, @by (suamiku) pulang untuk mengambil perlengkapan yang belum terbawa karena subuh tadi kami memang terburu-buru.

Melahirkan Anak Pertama Mukafha Sangkala Aldin

Tibalah aku dimana rasa mulas sudah tak tertahankan lagi, malam kian larut, waktu menunjukkan pukul 00:00 tanda tengah malam, mulas makin hebat tapi dr. Bob belum datang, kabar dari suster beliau masih harus melakukan operasi di RS lain tempatnya bekerja. Jadilah aku berteriak sekuat-kuatnya karena tidak kuat, mulasnya sungguh hebat. Kalau boleh aku deskripsikan, benar kata beberapa orang kawan, seperti mau buang air besar (BAB) tapi lebih dari itu. Mulutku sudah mulai menceracau banyak hal, teriakanku membuat suster ikut panik, ditengah-tengah itu aku masih berusaha tenang karena di kiriku ada one dan di kanan ada @by yang setia mendampingiku kala itu. Dua orang yang sangat sangat berarti dihidupku ada di sampingku, matipun tenang rasanya, pikirku saat itu.

Tibalah saat dimana aku harus mengejan, padahal sejak tadi kadang aku paksa mengejan meski dilarang, bagaimana tidak rasanya benar-benar tidak tahan. Ketika dr. Bob sudah memasuki ruang persalinan aku semakin merasakan sakit yang sangat hebat. Mulailah dokter memberikan aba-aba untuk tarik nafas, mengejan, tahan itu yang aku ingat. Saking tidak sabarnya sambil menahan mulas, kutanya suamiku apakah kepala anakku sudah keluar, katanya kalau kepala bayi sudah keluar tanda sudah lancar untuk mengeluarkan badannya. Tepat pukul 00:28 Sabtu dini hari tanggal 2 November 2013 lahirlah putra pertama kami, Mukafha Sangkala Aldin, dengan berat 3,4kg dan panjang 48cm, suamiku langsung menggendong dan mengadzankan anaknya. Lelah?sama sekali tak kurasakan, apalagi ketika beberapa saat sesudah lahir ke dunia, bayi mungil yang tak berdosa itu direbahkan didadaku. Semua terasa indah, seisi dunia seakan berada ditanganku, melihat bayi kecil yang selama ini kubawa-bawa dalam perut telah lahir, bayi yang kami nanti-nantikan kelahirannya telah hadir ke dunia, menambah kebahagiaan kami yang sudah banyak cinta setiap hari. Alhamdulillahirobbil alamin.

Suster membawa bayiku pergi, untuk sementara harus dihangatkan guna menjaga kestabilan suhu tubuhnya yang masih harus beradaptasi dengan dunia luar. Aku dipapah suami menaiki anak tangga untuk kembali ke kamar, anehnya melahirkan disana ya begitu. Mana ada sehabis melahirkan diharuskan menaiki anak tangga, padahal melangkah saja sangat lemah, tapi begitulah dr. Bob, ajaib!

Kebahagiaan Melahirkan Anak Pertama dengan Dokter Bob di Jakarta

Disaat itulah aku semakin sayang dan cinta dengan suamiku, sesudah melahirkan aku jadi tahu seberapa besar cinta dan sayangnya padaku. Dengan bersimbah darah ia tak jijik sedikitpun untuk membersihkan darah yang keluar sehabis persalinan, mengganti celana, semua hal yang mungkin tidak semua suami mau melakukannya, tapi suamiku lakukan, tanpa jijik sedikitpun. Ya Alloh, tiada kebahagiaan selain memiliki suami yang begitu baik dan penyayang serta mau menyentuh kita bahkan disaat-saat yang kita kira tidak mungkin. I love you @by, sangat cinta dan sayang semoga Alloh ridho dan kita menjadi sakinah, mawaddah, warohmah, dan keluarga dambaan syurga-Nya kelak, amiiinnn.

Setelahnya adalah welcome to the jungle! Selamat datang bergadang, selamat datang mamak-mamak yang rempong sendiri dengan berbagai hal tentang bayi. Yeaaayy!