(Dibuat pada Tahun 2007) 

Benciii…! Aku merasa ada yang berubah dari diriku. Kemana aku yang ceria, yang tidak pernah memikirkan laki-laki, kecuali Papa. Hari berlari begitu cepat tanpa mau menungguku untuk sekedar menghela nafas panjang karena lelah yang terasa. Sudah beberapa bulan sejak aku pertama melihatnya. Entah kapan dia mulai merasuk ke dalam otakku, menjalari tiap sel saraf dan memerankan peran penting di kisah hidupku, kali ini. Meski dia kakak kelasku, tapi sebenarnya kami lahir di tahun yang sama.

Satya bukan seperti laki-laki kebanyakan yang pernah kukenal. Pemalu dan pendiam, kesan pertama saat aku mengenalnya. Dia berbadan tinggi besar. Wajahnya mungkin tidak bisa disebut tampan, tapi dengan kulit berwarna kecoklatan, serta sikap yang begitu santun dan ramah membuatnya terlihat manis dan menarik kaum hawa untuk mengenalnya lebih jauh. Mungkin aku bukan perempuan pertama yang mengatakan ini benar.

“Rahel, Rahel…kenapa gue jadi aneh gini yah, duh, rese banget sih Satya udah bikin gue kaya gini!” Gumamku pada diri sendiri.

Pikiranku melayang, besok hari ulang tahun Satya. Aku masih bingung, apa yang akan kuberikan padanya. Pada orang yang sedang mengisi ruang hati ini, begitu dalam. Sampai kadang lupa pada diriku sendiri karena selalu memikirkannya. Ya Tuhan, mengapa jatuh cinta begitu menderita. Terlebih karena aku memilih menyimpan perasaan ini. Apa aku harus mengatakannya besok, menyudahi segalanya. Dan siap menerima apapun yang akan terjadi setelah kunyatakan perasaan yang selama ini kusimpan begitu rapat dalam ruang hati, bahkan bila itu adalah penolakan! 

”Din, besok Satya ulang tahun, gue bingung mesti beliin kado apa?” tanyaku pada Dinda ketika kami berada di toilet bioskop selesai nonton.

“Hah, besok, ya udah ikut gue sekarang, kita cari kado buat dia, baru pulang, key?!” ucapnya sambil membawaku menuruni tangga bioskop dan berlalu.

Aku masih merasa ‘kosong’ saat menyusuri jalan-jalan toko di dalam mall, padahal suasana begitu ramai. Berbagai pertanyaan bermunculan di kepalaku, apa ini semua hanya kesia-siaan? Aku tidak tahu, apakah yang kulakukan sebenarnya berhak kuminta balasan. Karena sampai detik ini aku dan Satya hanya teman. Aku hanya berstatus adik kelasnya. Keakraban aku dan dia hanya karena kami pernah bersama dalam suatu kepanitiaan dan organisasi sekolah.

”Ini hel, menurut gue cocok banget buat dia!” Dinda berucap sambil memberiku benda yang menurutku begitu sakral ketika kami berada di sebuah toko. Aku tertegun beberapa saat, mengamati benda itu dengan tatapan penuh harap. Sebuah Kitab Suci berukuran kecil berada di tanganku untuk kuberikan padanya. Seseorang yang kusembunyikan dalam diam. Seseorang yang karenanya hari-hariku menjadi lebih ceria dan berwarna. 

Keceriaan adalah ekspresiku di mata teman-teman. Namun, sejak Satya hadir mengusik hati ini, tidak hanya menjadi lebih ceria, terkadang aku bisa menangis tersedu atas apa yang tidak kupahami. Akh…mengapa aku harus merasakan hal yang begitu menyulitkanku bernafas tiap memikirkannya.

”Kok lo malah bengong hel?” Dinda membuyarkan lamunanku.

”Eh, mmm, lo yakin Din, gue ngasih ini ke dia?” Tanyaku meyakinkan.

”Iya ini, emang kenapa, ini cocok banget buat dia, udah yuk kita ke kasir, bayar, trus pulang deh, gua udah capek banget hel, hari ini” jawabnya dengan wajah yang memang sudah lelah karena seharian kami di luar rumah.

Sebenarnya aku senang dengan keadaanku sekarang, karena aku satu-satunya perempuan yang dekat dengan Satya, setelah ibu dan adiknya. Dia tidak punya sahabat selain Faisal, orang yang sempat bermasalah denganku karena suatu hal. Tapi keadaan itu sudah berlalu setelah kami berbaikan. Dan aku memutuskan untuk tidak terlalu sering berinteraksi dengannya, takut kalau-kalau ribut lagi.

***

Pagi menjelang dan menyambutku dengan penuh semangat. Setelah mandi dan sarapan aku mendekati lemari es untuk mengambil sesuatu di dalamnya. Sekotak blackforest yang kubuat sendiri semalam—sepulang nonton bersama Dinda—untuk Satya. Tepat pukul 00.00 dini hari tadi, aku sengaja tidak mengucapkan sepatah katapun ucapan selamat ulang tahun pada Satya. Aku ingin dia menanti-nanti ucapanku dan bertanya-tanya mengapa aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Kuharap memang begitu yang dia rasakan.

“Mama, Rahel berangkat sekolah ya ma” Aku buru-buru menaruh blackforest ke dalam plastik berukuran besar.

“Rahel, semalam kamu buat blackforest untuk siapa sih sayang, dari semalam ga jawab pertanyaan mama, hayo ngaku?” Mama mencubit pipiku yang agak tembem.

“Ah mama, nanti Rahel ceritain deh ma, sekarang belum pas untuk diceritain, okeh ma, muahh!” Aku memberi kecupan lembut di pipi mama, lalu pergi.

Aku harusnya mengatakan pada mama sejak awal agar mama memberi tahu apa yang harus aku lakukan, tapi apa dayaku. Pada hatiku sendiripun aku tidak yakin. Aku menjadi sering melamun, kadang mama mengejutkanku ketika masuk ke kamar aku sedang bengong gak jelas di meja belajar. Benar-benar memusingkan. Padahal dulu, mana pernah aku melamun bila sedang sendirian.

Kadang aku merasa Satya juga memberi perhatian lebih padaku. Kami sering pergi bersama di akhir pekan. Jalan, nonton, makan, seperti orang-orang pacaran, tapi apa itu semua memang seperti yang kupikirkan? Tentu saja itu belum cukup menjelaskan perasaannya terhadapku.

***

“Hel, gimana, udah siap semua, caelah, suit-suit?” Dinda mendekati sambil meledekku saat kami bertemu di depan gerbang sekolah.

“Udah sih Din, tapi gimana ya, sumpah gue jadi kaku gini yah, duh, gue bingung ntar gimana ya Din?” Aku tiba-tiba merasa aneh, sakit perut, seperti anak SD yang akan ujian sekolah atau disuruh naik ke pentas. Hakkh sebel banget!

“Trus, rencananya nanti gimana, lo mau ngasih langsung pas pulang sekolah di depan kelasnya ato gimana?” Tanya Dinda.

Aku bingung menjawabnya. Sumpah, aku memang masih belum tahu bagaimana akan kuberikan semua ini padanya. Oh God, tell me something, what should I do… 

“Ya udah lah, gimana ntar aja deh Din, gue juga bingung, gak mungkin gue tiba-tiba di depan kelasnya kan, bisa-bisa pada heboh semua gara-gara gue nyamperin kakak kelas!” Ucapku seadanya.

“Hel, kemaren tugas lo udah di kasih ke Sinta belom?” Tito menghampiriku dengan kening berkerut penuh tanya melihat ke arah bungkusan yang kubawa.

“Udah gue kasih ko, hari ini tugas kelompoknya dikumpulin ya?” Balasku.

“Iya, kalo gak hari ini, nilainya bakal dikurangin katanya, lo bawa apaan hel, kue ulang tahun ya, buat sapa tuh?!” Tanya Tito penasaran.

“Want to know aja, masuk yuk Din!” Ajakku pada Dinda sambil meninggalkanTito.

Aku masih bimbang, apa yang akan aku lakukan. Memberikan blackforest dan kado yang mungkin akan jadi yang terakhir, atau menjadi awal hubungan yang lebih serius? Aku benar-benar sedang bimbang dan takut pada apa yang akan terjadi setelah hari ini. Apa aku harus mengatakan semua atau memilih untuk tetap menyimpannya karena aku benar-benar takut kehilangan Satya. Kehilangan kebersamaan meski tanpa status sebagai kekasih, kehilangan perhatiannya yang bukan sebagai pacar atau kehilangan segala yang mendekatkan kami sampai detik ini.

***

Detik-detik pertemuan kami sudah semakin dekat. Kata Diki, salah satu temannya, Satya sedang di kantin bersama Yudi. Aku sudah menyuruh Fandi, teman sekelasku yang dekat dengan Satya, untuk membawanya ke taman belakang sekolah. 

“Hel, gimana, lo udah siap belom, gue udah nelpon Satya, dia lagi menuju taman belakang sekolah tuh” Ujar Fandi ketika aku keluar dari ruang guru setelah mengumpulkan tugas di kelas tadi.

“Ya udah, lo susul dia aja, ntar gue ke sana bareng Dinda, okeh!” Aku mengacungkan jempol pertanda semua beres.

“So, lo bakal nyatain perasaan lo ke dia hari ini hel?” Tiba-tiba Dinda mengingatkanku pada hal yang membuatku sulit bernafas karenanya.

“Gue masih bingung banget Din, gue bingung banget, beneran, gue gak tau apa yang bakal gue bilang ke dia, gue takut kehilangan dia Din, gue takut segalanya bakal berubah kalo gue bilang ke dia tentang perasaan gue selama ini, gue bener-bener takut Din” Jawabku dengan nada melemah. 

“Apapun yang bakal terjadi abis ini, gue bakal selalu ada di samping elo, dukung apapun yang lo putuskan! udah ah, sejak jatuh cintrong ma dia lo jadi suka mellow gak jelas, hukh dasar tuh anak ingusan songong, sampe sahabat gue jadi kena virus cinte begini, hehe!” Dinda mencoba membuat suasana mencair karena aku memang sedang aneh hari ini. Aku akan biarkan keputusan keluar saat bertemu dengannya. Entah itu apa, akan kulihat nanti. 

***

Aku sudah bisa melihat sosok yang begitu kudamba dari kejauhan, dia duduk membelakangiku di taman belakang sekolah bersama Fandi di sampingnya. Aku berjalan gontai penuh ragu, ragu pada apa yang kini kulakukan apakah berarti baginya. Perlahan kusunggingkan senyum terindah sebelum dia melihatku—agar aku tidak terlihat kaku di depannya. Dinda menjabat tanganku erat agar aku yakin pada apa yang akan aku lakukan.

“Happy birthday to you…happy birthday to you…happy birthday, happy birthday, happy birthday Satya!” Aku membawa blackforest yang sudah ditaruh lilin di atasnya dengan kedua tanganku dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.

Satya tersenyum, Dinda dan Fandi bersorak bersama menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan. Aku mendekatinya lagi sambil menyodorkan blackforest yang kubuat sendiri dengan tanganku, meski tidak senikmat buatan Toko Kue Terkenal atau tempat lain yang sudah terjamin rasanya. Yang aku tahu—sedikit gombal memang—aku membuatnya dengan ramuan penuh cinta.  

“Selamet ulang tahun ya, Sat, semoga semua doa kamu terkabul” ucapku setelah Satya make a wish dan meniup lilin.

“Makasih yah, aku kira ada apa aku dibawa ke sini, Fandi juga gak mau bilang ada apa!” Ucapnya sambil menoleh ke arah Fandi. 

“Oiya, nih kado buat kamu, semoga kamu suka yah” Aku kikuk, tidak tahu harus berucap apa. Sepertinya Satya merasakan ke-kikukan-ku. Satya pun jadi salah tingkah, tapi kami mencoba menstabilkan emosi masing-masing. Dinda dan Fandi menjauh, meninggalkan kami berdua di taman. Aku duduk di bangku taman, Satya mengikuti. Kami bercanda, tertawa, saling meledek—seperti yang biasa kami lakukan. Meski terlihat sedikit kikuk, kami tetap bercanda dan bercerita tentang apa saja.

Sesaat aku memandang Satya dalam-dalam. Semua kenangan tentangnya berputar-putar di kepala. Kebahagiaan, perhatian, dan warna hidup yang diberikannya benar-benar melekat dalam diriku. Apakah aku siap kehilangan itu semua? Hh…aku menghela nafas panjang, menghimpun segala keyakinan, dan memutuskan sebuah hal penting! 

Ya, aku putuskan untuk tetap bersamanya, menjadi perempuan yang paling dekat dengannya, tanpa harus mengungkapkan semua rasa ini. Karena kurasa, begini lebih baik, mungkin…